//
you're reading...
Artikel umum

Selamatkan Lintang

Selamatkan Lintang
Nama Lintang kiranya tidak asing dalam keseharian kita, bagi yang pernah baca buku atau nonton film “Laskar Pelangi” tentunya akan mudah untuk mempersonifikasikan seorang lintang itu, dia seorang anak yang hidupnya sebatang kara, sejak kecil ditinggal untuk selamanya oleh Ibunda tercintanya, dengan ketiadaan ibunya dia harus turut mengasuh adik-adiknya yang masih belia, juga ikut serta mengurus kebutuhan keluarganya, bahkan dia harus membantu ayahnya untuk mencari nafkah keluarga. Ditengah-tengah serba keterbatasan itu dia tidak putus harapan. Dia anak yang gigih, ulet, pantang menyerah. Dengan kegigihannya dia mampu mengukir prestasi yang gemilang di bangku Sekolah Dasarnya itu, keberadannya telah membuat harum nama sekolah itu.
Beberapa saat kemudian sekolahpun harus berduka-cita saat anak berlian itu harus berpamitan untuk tidak sekolah lagi, siapa sangka anak berlian itu harus putus sekolah sebelum menuntaskan sekolah dasarnya, yaitu saat sang ayah harus pergi menyusul sang Ibu ke alam berzah. Sekarang tinggalah Lintang bersama adik-adiknya tanpa kehadiran sosok ayah juga tanpa curahan kasih sayang sosok ibu, dia harus berfikir sendiri untuk melangsungkan kehidupan keluarganya. Dengan perginya sang ayah lengkaplah kiranya penderitaan seorang lintang dalam bertarung melawan hidup. Kondisi inilah yang memaksa Lintang untuk putus sekolah.
Pertanyaannya, Bagaimanakah seandainya kita yang menjadi Lintang? Apa yang akan kita perbuat? Kemanakah kita harus berlindung? Kepada siapakah kita harus menangis? Kiranya tidak ada satupun dari manusia yang memilih hidupnya demikian, tetapi apa boleh dibuat saat Allah telah menentukan demikian, Lintangpun tidak menghendaki demikian, dan bahkan kita semuanya. Tetapi dibalik semua itu pasti Allah mempunyai maksud tertentu untuk manusia. Kita tinggal mengambil pelajaran atau hikmah sehingga dalam menjalani hidup ini lebih arif dan bijaksana.
Kisah lintang itu hanya satu dari sekian juta Lintang yang senasip dengannya, yang harus putus sekolah demi menjalankan tugasnya sebagai kepala keluarga dari saudara-saudaranya, yang tidak tahu harus kemanakah nasib masa depannya, tidak tahu kemana harus memanggil ayah, kemana harus mendapatkan belaian kasih-sayang Ibu, dari manakah harus mendapatkan sesuap nasi untuk mempertahankan hidupnya?. Anak-anak yang diwakili Lintang itu termasuk didalamnya anak Bangsa ini, yang sebenarnya mempunyai banyak potensi dalam dirinya, juga mempunyai semangat untuk menuntut ilmu yang kemungkinan juga sebagai calon Habibie baru di masa yang akan datang, tetapi karana kondisi yang tidak memungkinkan untuk studi, jadilah ia sebagai ‘pengangguran dini’. Sekaligus menjadi pelengkap dan penyempurna permasalahan Bangsa ini.
Kita perlu membuka tirai jendela rumah kita, membuka jendela mobil kita, membuka helm tropong kita untuk sejenak melihat alam sekitarnya, melihat realitas sosial, bukankah di sana banyak yang menunggu uluran tangan kita?. Dipagi buta kita lihat anak-anak kecil berseragam sekolah seadanya, kusut, dan usang, sambil menangis menunggu sarapan paginya, menunggu uang sakunya, pada hal merakapun tidak tahu apakah akan ada sarapan pagi juga uang saku pada hari itu. Sedangkan putra-putri kita sudah siap berangkat ke sekolah, dengan sejumlah uang saku, dengan pakain yang mendereng, dengan anika perlengkapan untuk sekolah.
Tentu kita perlu mengasah kepekaan hati agar dapat mendengar rintihan perasaan Lintang, yang setiap saat merindukan senyuman kasih-sayang, sapaan persahabatan. Mungkin rintihan itu tidak sampai terbisik melalui lisannya, , tetapi dapat kita fahami dari tatapan yang penuh harap itu.
Tatapan mata yang sayu itu, selalu memanggil hati para dermawan untuk sekedar menyapa dengan panggilan kasih-sayangnya, atau hanya sekedar berbagi cerita indahnya. mereka membutuhkan sentuhan kasih-sayang, mereka haus akan sentuhan bathin, merindukan kehadiran sosok ayah juga kehadiran sosok Ibu yang bisa mewakili walaupun sekedar hanya dapat mendengarkan keluh-kesahnya.
Karena kebutuhan yang berlipat ganda itulah, Nabi memberikan posisi yang terhormat bagi siapa saja yang mau menyantuni atau memelihara anak yatim, yaitu sejajar dengan posisi Nabi di Surga kelak laksana jari tengah dengan jari telunjuk. Seperti dalam sabdanya, yang artinya “Saya bersama orang yang memelihara/menyantuni anak yatim berada dalam surga laksana ini (beliau memberikan isyarat dengan dua jarinya yaitu seperti jari tengah dan jari telunjuk)”
Bukan hanya mendapatkan penghargaan diakhirat kelak, tetapi begitu juga di dunia, yaitu bagi siapa yang hatinya dilanda oleh kegundahan, atau bagi orang yang merindukan ketenangan jiwanya, datangilah anak Yatim walaupun hanya sekedar mengusap kepalanya.
Dengan analogi sederhana, kalau hanya dengan mengusap kepalanya saja sudah dapat meluluhkan kekerasan hati, apalagi bisa berbagi yang lainnya sudah tentu akan mendapatkan yang lebih dari itu.
Kiranya cukup sindiran al-Qur’an kepada kita, dalam surat al-Maa’un 1-7, yang artinya Tahukah kamu ( orang) yang mendustakan agama? Maka itulah orang-orang yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan kepada orang miskin, maka celakalah orang yang shalat, yaitu orang yang lalai terhadap shalatnya, dan orang yang shalat dengan riya’ dan enggan (memberi) bantuan
Sindiran surat ini pula memperjelas bahwa sebagai bukti konkrit dari keberagamaan seseorang bukan semata-mata kepada berapa kalinya naik haji, atau seberapa banyak melakukan puasa? semua itu dipandang sebagai orang yang berdusta dalam beragama, atau keberagamaannya hanya sebatas pura-pura belaka manakala tidak memperdulikan nasib sesama, nasib anak yatim dan orang miskin. Sekalipun demikian bukan berarti menyepelekan ibadah ritual yang diwajibkan itu, melainkan hal ini hanya mempertegas perlunya ada keseimbangan dalam kehidupan agar tidak terjebak kepada sebutan ‘shalih pribadi’ tetapi tidak ‘shalih sosial’.
Sebagai satu gambaran, Fariduddin Al-Attar memberikan satu catatan dalam warisan Aualiya’ menulis, bahwasanya Abdullah bin Mubarok, seorang Sufi, dalam tidurnya bermimpi mendengar dua Malaikat berdialog tentang jamaah haji yang baru saja menunaikan ibadah haji di tanah suci. Abdullah terperanjat, ia bangun dari tidurnya dengan tubuh gemetar karena diantara 600.000 orang yang naik haji tidak satupun ibadahnya diterima oleh Allah, pada hal Abdullah termasuk salah satu jamaah itu. Meskipun demikian menurut Malaikat, ada tukang sepatu di Damaskus yang tinggal dirumah tetapi hajinya diterima. Abdullah penasaran, lalu diam-diam ia menyelidiki ke Damaskus, tukang sepatu itu ternyata Ali bin Muwaffak, orang biasa tetapi telah tiga puluh tahun menabung untuk naik haji, ketika tiba saat naik haji, ia menemukan seorang tetangganya yang tampak hidup nelongso, rupanya kehidupannya sangat memprihatinkan, mereka sudah tiga hari tidak dimasuki makanan. Ali kaget kemudian menyerahkan uang simpanannya yang dikumpulkan selama tiga puluh tahun untuk naik haji itu untuk keluarga itu.
Kepekaan terhadap kondisi sosial adalah bagian dari buah cara keberagamaan seseorang. Sudah menjadi pemahaman umum bahwa agama Islam bukan hanya menitik beratkan hanya pada dimensi ibadah (Hablum Minallah) tetapi juga harus menyentuh dimensi mu’amalah (Hablum minannas), dengan demikian keberagamaan kita tidak dibenarkan manakala hanya mengutamakan satu dimensi dengan mengenyampingkan dimensi yang lainnya. Salah satu diantara fungsi diturunkannya agama adalah untuk kemaslahatan manusia, disaat agama hanya difahami pada dimensi Ibadah an sich maka agama akan terasa kering dan hampa, juga akan kehilangan relevansinya.
Pertanyaan yang pantas diajukan adalah islamkah kita bila dalam kehidupan sehari-hari kita rajin shalat, puasa, sementara membiarkan tetangga tidak bisa tidur karena kelaparan, dan kehujanan? Islamkah kita bila dalam berekonomi kita menuai hasil besar karena yang lebih kecil kita tindas? Islamkah kita bila kita sudah berhaji bahkan berkali-kali sementara kita menutup mata dengan anak tetangga yang putus sekolah karena kendala biaya?. Kita perlu mengakui bahwa sering sekali kita mengabaikan kewajiban agama yang esensial itu yang sekaligus menjadi tolak ukurnya.
Oleh: Nasirudin Hidayat

About 7assalam9

seorang yang berasal dari madura

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Asmaul Husna

Arsip

free counters

Powered by  MyPagerank.Net

SEO Stats powered by MyPagerank.Net

Komentar Terbaru

Mr WordPress di Hello world!
%d blogger menyukai ini: