//
you're reading...
Artikel umum

Sabar yang Benar dan “Sabar” yang Salah

Di dalam al-Qur’an sering sekali Allah menyebut kalimat sabar ini dalam berbagai shighat dan ungkapan. Tidak kurang dari 29 kali Allah menyebut kata sabar ini dalam bentuk kalimat perintah, baik yang ditujukan kepada para Nabi terdahulu dan umatnya, maupun kepada Rasulullah SAW secara pribadi beserta seluruh umatnya. Banyak pula Allah menyebut keutamaannya dan keunggulan orang-orang yang sabar, serta menjanjikan berbagai balasan baik kepada mereka. Bahkan sering pula Allah menjadikan kesabaran sebagaii syarat diberikannya hidayah, pertolongan, rahmat, serta keselamatan.
Sering kali orang memaknai kata sabar ini dengan pengertian yang terbatas, sehingga melahirkan konotasi yang pasif dan statis, padahal makna yang sebenarnya tidaklah demikian. Sabar bukan berarti diam menunggu datangnya pertolongan, apalagi pasrah dan menyerah pada nasib, serta terkurung dalam keputusasaan. Sebaliknya, sabar justru mengisyaratkan adanya ketegaran dan ketangguhan dalam menghadapii hempasan gelombang dan badai kehidupan, sabar juga mengajarkan ketekunan dan keuletan sehingga memunculkan gagasan kreatif dan ide-ide cemerlang dalam mengatasi berbagai kesulitan dan problema hidup.
Para ulama’ tasawuf mendefinisikan sabar dengan pengertian adanya “ketahanan jiwa” seseorang dalam mengendalikan dorongan hawa nafsu yang seringkali diperkuat oleh tipu daya syetan untuk melakukan penyimpangan dari jalan ALLAH. Apalagi ditambah dengan pengaruh lingkungan pergaulan yang selalu menghadirkan beragam persoalan dan sering pula diwarnai dengan guncangan-guncangan.
Berdasarkan pengertian terakhir ini, maka sabar berarti ketabahan untuk selalu berpegang teguh pada ajaran ALLAH, meskipun harus menghadapi beratnya godaan dan rintangan. Orang yang sabar tidak akan pernah kehilangan pegangan dan selalu dapat mengendalikan diri ke arah jalan ALLAH, bagaimanapun beratnya tekanan dan beban kehidupan. Dengan demikian maka hakikat kesabaran itu mengandung makna ketangguhan, ketabahan, ketekunan, istiqomah, kreatif, dan bahkan inovatif.
Kalau kita lihat dalam al-Qur’an, maka pengertian sabar seperti disampaikan tadi sangat bersesuaian dengan firman Allah, surat Ali ‘Imran ayat 146: “Maka mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah dan mereka juga tidak menjadi lesu (patah semangat) serta tidak menyerah (kepada musuh), dan Allah sangat menyukai orang-orang yang sabar.”
Di dalam ayat tersebut ditegaskan bahwa orang-orang yang sabar yang dicintai oleh Allah adalah mereka yang tidak lemah dalam menghadapi kesulitan,tidak mudah patah semangat dalam berjuang, dan tidak pernah menyerah pada lawan dalam membela agama Allah. Keseluruhan sifat yang disebut di dalam ayat ini mencerminkan pribadi yang kokoh, ulet dan selalu optimis dalam menghadapi segala rintangan.
Pemahaman dan penghayatan makna sabar seperti dikemukakan tadi patut kita kembangkan secara terus menerus dan kita aktualkan dalam sikap hidup keseharian, karena saat ini banyak sekali orang yang kehilangan kesabaran ketika menghadapi berbagai guncangan, baik guncangan politik, guncangan ekonomi, maupun guncangan budaya.
Banyak orang kehilangan kendali diri ketika memasuki wilayah politik sehingga begitu mudah melakukan kebohongan, kecurangan, pengkhianatan, membuat janji palsu, bahkan memanipulasi dalil-dalil agama hanya untuk meraih target-target politik mereka. Banyak pula orang yang mencampakkan aturan dan hukum-hukum ALLAH ketika mengalami guncangan ekonomi atau terbius oleh keserakahan duniawi, sehingga mereka memilih jalan pintas dengan melakukan penipuan, berjudi, korupsi, serta berbagai bentuk transaksi haram lainnya.
Demikian pula guncangan budaya yang membuat banyak orang kehilangan identitas dan citra dirinya, serta meninggalkan budaya Islami yang luhur. Mereka begitu mudah larut dan terhanyut dalam budaya sekuler yang memporak-porandakan moral, baik dalam pola berpakaian, gaya bicara, tata pergaulan dan gaya hidup secara keseluruhan.
Di dalam surat al-Ma’aarij ayat 5, Allah memerintahkan kepada kita agar bersabar dengan kesabaran yang baik, “Maka bersabarlah kamu dengan yang baik.”
Syekh Hunain M. Makhluf dalam kitabnya “Kalimaat al-Qur’an, Tafsir Wa Bayaan” memaknai kalimat “Shabran Jamiilan” ini dengan arti kesabaran yang tidak disertai keluh kesah kepada siapapun selain hanya kepada Allah saja. Kesabaran semacam inilah yang pernah dicontohkan oleh Nabi Ya’qub as. Ketika dua kali beliau kehilangan dua putera kesayangannya, sehingga di dalam surat Yusuf dua kali beliau menyebut kalimat Fashabrun Jamiil. Hal ini berarti bahwa sabar itu tidak pernah berkeluh kesah sedikitpun kepada siapapun, yang mencerminkan adanya jiwa yang tegar serta mental yang tangguh.
Membangun jiwa yang kuat dan mental yang tangguh juga diperintahkan oleh Allah, karena Allah sangat Menyukai umat yang kuat. Untuk itu, Allah Mengingatkan umat Islam agar tidak meninggalkan generasi enerusnya dalam kondisi yang lemah. Hal ini tersirat dalam surat an-Nisaa’ ayat 9, “Dan hendaklah mereka takut (kepada Allah) kalau meninggalkan anak-anak (keturunan) yang lemah, yang mereka khawatirkan kesejahteraannya, maka hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka berkata dengan perkataan yang benar.”
Sahabat ‘Abdullah bin ‘Abbas menyatakan bahwa ayat ini ditujukan kepada orang yang meninggal, apabila mereka membuat wasiat, hendaknya selalu memperhatikan kesejahteraan ahli warisnya. Jangan sampai wasiat itu melalaikan ahli warisnya sendiri, sehingga mereka tidak memperoleh bagian harta waris yang memadai, akhirnya mereka menjadi miskin dan lemah.
Namun apabila dicermati lebih mendalam, maka didalam ayat ini juga terdapat peringatan agar setiap manusia mempersiapkan serta mengkondisikan jiwa yang kuat dan mental yang tangguh pada anak cucu keturunan mereka. Hal itu dapat dilakukan utamanya dengan memberikan pendidikan yang memadai, menciptakan lingkungan yang baik untuk perkembangan fisik maupun mental, memberikan asupan makanan yang sehat dan halal, termasuk dengan meninggalkan harta waris yang cukup.
Allah swt Menjadikan sikap sabar ini sebagai ukuran utama untuk menilai kualitas iman seseorang. Bahkan dalam sebuah hadits dari sahabat ‘Abdullah Bin Mas’ud, Rasulullah SAW pernah menyatakan bahwa: sabar itu merupakan separuh dari kesempurnaan iman, as-shabru Nishfu al-Iman. Oleh karena itulah, ALLAH selalu Memberikan ujian kepada setiap hamba-Nya untuk menilai kualitas iman yang terungkap dalam tingkat kesabaran mereka.
Dan dalam al-Qur’an beberapa kali Allah Menyatakan bahwa Dia pasti akan menguji setiap hamba-Nya, salah satunya terdapat pada surat Muhammad ayat 31, “Dan sesungguhnya kami benar-benar akan menguji kalian sehingga kami mengetahui orang yang sungguh-sungguh berjuang dan bersabar diantara kalian, dan kami mengetahui kenyataan sikap kalian.”
Ujian yang ditimpakan oleh Allah ada kalanya berupa kebaikan (hal yang menyenangkan) dan ada kalanya yang berupa penderitaan (hal yang menyusahkan). Hal ini diterangkan dalam surat al-A’raaf ayat 168, “Dan kami telah menguji mereka dengan kebaikan (kenikmatan) dan kejelekan (bencana) agar mereka mau kembali (ke jalan yang benar).”
Juga pada surat al-Anbiyaa’ ayat 35, “Dan kami akan menguji kaliandengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan, dan hanya kepada kamilah kalian semua akan dikembalikan.”
Dengan demikian, segala hal yang dialami dalam hidup manusia ini pada hakiktnya adalah ujian dari ALLAH yang harus disikapi secara benar sesuai dengan ajaran-Nya. Pensikapan yang benar terhadap segala bentuk ujian inilah yang disebut sabar.
Dalam menghadapi dua macam ujian ini kita patut waspada dan perlu memperhatikan peringatan-peringatan yang pernah disampaikan oleh para sahabat Rasulullah SAW maupun para ulama’. Mereka pada umumnya merasakan bahwa menghadapi ujian berupa kesenangan/kenikmatan jauh lebih berat dari pada ujian yang berupa kesulitan. Ketika para sahabat Rasul di Madinah telah mencapai kemakmuran dengan memiliki harta kekayaan yang berlimpah, banyak diantara mereka yang mengatakan, “Kami telah diuji dengn berbagai kesulitan/penderitaan maka kami mampu bersabar, tetapi ketika kami diuji dengan berbagai kesenangan/kenikmatan, maka ternyata kami tidak mampu bersabar.”
Demikian pula seorang ulama’ bernama Syekh Sahal menyatakan bahwa “bersabar dalam menerima kesenangan jauh lebih berat dari pada bersabar mengahadapi penderitaan”. Artinya bahwa seseorang sering kali menjadi lupa ajaran allah dan kehilangan kendali diri ketika mendapatkan kesuksesan/kesenanagan, meskipun banyak pula yang tidak sabar dalam menghadapi kesulitan/penderitaan.
Oleh sebab itu patutlah kita memperhatikan peringatan tadi Allah bahwa berbagai bentuk kesenangan dan kenikmatan pada hakikatnya adalah juga merupakan ujian. Dan Allah Mengingatkan agar kita jangan sampai terlena dan menyeleweng dari ajaran-Nya oleh berbagai kesenangan tersebut. Di dalam surat an-Anfaal ayat 28 Allah Mengingatkan bahwa harta kekayaan dan anak-anak (keluarga) adalah sebagian dari bentuk kesenangan yang merupakan ujian. Oleh karenanya Allah Mengingatkan di dalam surat al-Munaafiquun ayat 9, “Wahai orang-orang yang beriman jangankah hartamu dan anak-anakmu membuat kamu berpaling dari mengingat Allah (mematuhi ajarannya).”
Melalui media yang mulia ini marilah kita meneguhkan semangat untuk menjadi hamba-hamba Allah yang sabar dalam menghadapi berbagai ujian hidup baik yang berupa kesulitan/penderitaan maupun yang berupa kesenangan/kenikmatan, sehingga kita tetap memiliki hubungan yang baik dan dekat dengan Allah, serta tidak pernah menyimpang dari ajaran-Nya. Hal ini penting untuk kita upayakan karena hanya orang yang sabarlah yang dijanjikan anugerah besar dari Allah, berupa kesejahteraan, kasih sayang (rahmat) dan petunjuk jalan hidup yang benar. Hal ini dinyatakan oleh Allah pada surat al-Baqarah ayat 157, “Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan Rahnat dari Tuhan mereka, dan merekalahn yang mendapatkan petunjuk (jalan yang benar).”
Wallaahu A’lam bishhowaab.

About 7assalam9

seorang yang berasal dari madura

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Asmaul Husna

Arsip

free counters

Powered by  MyPagerank.Net

SEO Stats powered by MyPagerank.Net

Komentar Terbaru

Mr WordPress di Hello world!
%d blogger menyukai ini: