//
you're reading...
artikel islam

PERINGATAN MAULUD NABI MUHAMMAD SAW

PERINGATAN MAULUD NABI MUHAMMAD SAW

Peringatan Maulud Nabi dan amalan diri bukanlah berasal dari Nabi Muhammad SAW. Atau Shahabat dan madzhab yang empat, tetapi yang pertama kali yang mengadakan peringatan upacara Maulud Nabi yaitu Malik Maghoffar Abu Sa’id Al-kaukaburi, salah seorang Raja Irbil, ialah salah satu negeri yang letaknta di Iraq, 80km dari mausul atau muwassil. (Kitab Siratunnawi I : 45/6) kalau membikin upacara Maulud Nabi dilakukan bersamaan waktu dengan negeri Maroko (Afrika) dan di Spanyol (Eropa). Menurut keterangan salah seorang yang namanya Saidy Abu Abdullah Attunisy El-Tilimsyany, Raja Malik Maghoffar Abu Sa’id waktu itu sedang terancam oleh tentara Jenggis Khan dari Mongolia. Malik Maghoffar secara kebetulan sedang memikirkan cara menangkis serangan musuh tersebut akhirnya mendapat Inspirasi, mengerahkan tenaga kemerdekaan agama dan megara dengan cara mengadakan perayaan besar-besaran pada waktu Bulan Robiul Awwal, akhirnya membikin pembacaan Maulud Nabi SAW. Mengambil pembicaraan yang berkaliber (bertema) dan orang yang mahir Tarikh, dan mempunyai wibawa, dengan judul peringatan dan membaharui ingatan terhadap perjuangan Rosulullah SAW. Yang maksudnnya dipergunakan untuk kepentingan politik membela kemerdekaan Agama dan Negara, untuk menegakkan hokum-hukum Agama Allah SWT. Diatas muka bumi ini, demikian Raja Malik Maghoffar Said Al-Kaukaburi pada tahun 586H atau Tahun 1190M. diadakan pasar malam 7 hari 7 malam diatur dengan cara yang menarik sekali. Masyarakat kecil maupun besar jadi meluap-luap dan berkobar-kobar, menjiwai hati Rakyat untuk membela Agama dan Negar. Akhirnya berhasillah maksu tujuan Rja Irbil sebagaimana ynag direncanakan uyntuk menahan musuh yang mengancam Negaranya, yaitu Tentara Jenggis Khan. Hingga salah Seorang Pujangga Islam, yakni Ibnu…………. Menerangkan dalam kitabnya, bahwa Maulid yang secara besar-besaran dan secara resmi itu, baik mengenai agama maupun mengenai politik terjadi pada Abad ke- XII M yang dikenal oleh sejarah sebagai Pioner, adalah Raja Irbil yang diberi kuasa oleh Sultan Salahuddin, ialah Said Al-Kaukaburi pada tahun 586H atau 1190M. Jadi pertama-tama adanya perayaan Maulud, terang bukan dari Agama ataupun perintah Agama yakni bukan asli dari dalam pasar malam itu, diadakan panggung-panggung dengan beberapa tingkat, yang panggung-panggung tersebut untuk para warga Raja dan mentri-mentri dan pula untuk pembesar –pembesar yang dihiasi denga bunga-bunga yang serba indah, dan tontonan-tontonan yang di gemari oleh umat masyarakat .untuk tempat perayaan-perayaan ,di pergunakan lampu –lampu, lilin-lilin yang besar-besar dan berwarna merah, Hijau dan sebagainya. Demikian pula tiang rumah, Tempat panggung-panggunng dan gedung untuk tamu-tamu agung, diatur serba indah, permadani yang dikembangkan dan dihiasi pula dengan bantal-bantal yang indah bersongket atau dikembangkan model berair Emas dan Perak; ringkasnya sangat hebat sekali. Baik dipasar malamnya maupun di panggung-panggung dan tempat gedung-gedung pertemuannya diberi bau-bauan yang sangat harum, seakan-akan kasturiyang dibayangkan di Dunia. Yang hadir mulai dari orang-orang yang dekat dan jauh-jauh, mulai dari rakyat sampai orang-orang besarnya, dari orang alimnya sampai tasawuf, sufi atau thoriqotnya. Untuk penerangan dipergunakan lampu-lampu lilin yang besar-besar seperti tiang-tiang rumah, dihiasi lampu-lampu dan bunga-bunga yang teratur indah. Adapun orang-orang yang hadir diatur menurut tingkat-tingkatnya. Semuanya bersikap tenang dan hormat selama dalam upacara Maulud Nabi Muhammad SAW. Kemidian Dibacakan Riwayat Nabi serta pujian-pujian kepada beliau dengan bahasa masing-masing, menurut tempat-tempat hadirin, yang bias menaikkan semangat cinta kepada beliau (Nabi Muhammad SAW) dan inspirasi kepada hadirin dan diserukan supaya meninggalkan segala perbuatan ma’siat, mengerjakan perintahnya, memegangi hokum-hukum Allah SWT. Dan sunnah Rosulnya, demikian pula kepercayaannya dan harus karena Allah semata-mata. Karena pembacaannya itu bahasa masing-masing, akhirnya bias menarik perhatian dan berhasil memperbaharui semangat perjuangan Ummat, mengikuti sepak terjang Rosulullah SAW. Yang telah mendirikan agama ini di dalam diri keluarganya dan kemudian kedalam masyarakat umum sampai terjamin keridhoaan Allah SWT. Raja Irbil yang diberi kekuasaan Oleh Sultan Salahuddin adalah Abu Said Al-Kaukaburi bin Abil Khasan, bangsa Turkuman, akhirnya mendapat jasa, sera gelar “Al-Mu’adzhom Mughoffaruddin”. Adapun kitab yang dijadikan dasar atu pedoman 0leh raja Irbil tersebut, yaitu kitab yang dikarang oleh ahli tarikh yang bernama Khafidz Bin Dahyah yang berjudul “Attanwir Fii Maulidi basyrin nadzir”. Kitab tersebut kalau diartikan ke dalam bahasa Indonesia demikian : “Penerangan tentang kelahiran Nabi Muhammad SAW yang menngembirakan serta mengnacam (menakut-nakkuti)”. Kitab tersebut khusus kepentingan Maulud, karena baiknya isi ciptaan kitab tersebut, Rja Irbil memberi Hadiah 1000 dinar emas pada pencipta tau pengarang kitab tersebut. Dengan bekal kitab tersebut, raja Irbil bias memblokir, mengepung bangsa di Negeri AKK (ACRE). Didalam sejarah, tercatat bahwa kejadian tersebut terjadi pada Tahun 630H. Said Al-Kaukaburi memperingati Maulud atau Mauludan untuk menggugah kepada Ummat Islam yang terancam tentara Jenggis Khan dari Mouqolia tersebut. Dengan cara demikian, maka peringatan memperingatkan perjuangan Nabi Muhammad SAW. Serta kemenangan Agama Allah Agama Islam, dalam sejarah atau tarikhnya, adalah suatu hal yang mempunyai dasar dalam Agama kita. Karena demikian cara membikin peringatan, menurut Imam Asakhawi, tidak ada satupun ulama yang menentang pada Said Al-Kaukaburu. Karena para ulama waktu itu merasakan manfaatnya, sebab mengandung pelajaran dan Doa kepada Rosulullah SAW. Tidak ada rasa Taabbud sedikitpun kepada Rosulullah SAW. Sebagaimana orang-orang indonesisa, terutama orang jawa, sehingga mereka ikut tertarik memperingati Maulud Nabi Muhammad SAW. Tetapi saying, sekarang peringatan maulud Rosulullah SAW. Telah berpindah mencari pahala, akhirnya dipenuhi dengan macam-macam bid’ah, takhayyul, khurofat dan syuruk. Disalah satu kota di Jawa ada tradisi dalam peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW. Terutama pada tanggal 1 bulan Robi’ul Awal atau bulan Maulud dengan kepercayaan antara lain mereka tidak boleh melakukan : 1. Gunting Rambut atau cukur 2. tidak boleh potong kuku 3. makan tidak boleh makan daging, harus dengan sayur-sayuran. Larangan-larangan tersebut sampai tanggal 12 Robiul Awal. Kata mereka. Yang demikian itu adalah cara/aturan menghormati Nabi Muhammad SAW. Dan dinamakan hari membuang takir, membuang kembang dan uang selawat. Baik uang bolong (lubang) yang penting uang setengah sen atau ketengan. Disusun dari hasil Pengajian Jamaah Masjid Bubutan GNI, Surabaya

About 7assalam9

seorang yang berasal dari madura

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Asmaul Husna

Arsip

free counters

Powered by  MyPagerank.Net

SEO Stats powered by MyPagerank.Net

Komentar Terbaru

Mr WordPress di Hello world!
%d blogger menyukai ini: