//
you're reading...
Artikel umum

MENJADI MANUSIA YANG BAIK

MENJADI MANUSIA YANG BAIK

Suatu kenyataan yang tidak dapat dibantah, kita didunia ini tidak dapat hidup sendirian, tidak dapat hidup sebatang kara. Kita semua ini bukanlah malaikat, yang dapat hidup dengan tidak makan, minum, dan lain sebagainya.
Kita adalah manusia, kita adalah anak Adam yang tidak boleh tidak pasti mempunyai banyak keperluan hidup, baik bersifat rohani maupun yang bersifat jasmani, baik yang primer maupun yang sekunder.
Kita semua tahu hampir semua kebutuhan hidup kita ini sampai kepda kebutuhan hidup kita yang sekecil-kecilnya sekalipun tidak mungkin dapat kita cukupi hanya dengan usaha tangan kita sendiri tanpa bantuan orang lain. Kita makan misalnya, setiap suap nasi yang kita makan, kita memerlukan bantuan puluhan atau bahkan ratusan dan ribuan orang lain yang bekerja mewujudkan setiap suap nasi kita itu, sejak mulai biji padi dijatuhkan di tanah, sampai akhirnya berwujud nasi yang siap untuk dimakan.
Misalnya lagi, kita mencari ilmu. Setiap bagian ilmu yang kita pelajari, pastilah sebelum itu sudah banyak sekali orang lain yang telah bekerja bersusah payah sehingga ilmu itu dapat dan mudah kita pelajari. Kita tinggal membaca buku atau mendengarkannya, dan kita tidak melakukan penyelidikan mulai dari nol ketika ilmu itu belum ditemukan. Dan lain sebagainya.
Jadi saudara-saudara kita semua pasti memerlukan bantuan orang lain. Dan hajat kita akan bantuan orang lain, bergaul dengan orang lain. Dengan kata lain, kita semua ini harus hidup bermasyarakat. Itulah sebabnya sudara-saudara, para sosiolig berkata bahwa; “manusia adalah makhluk social”
Agama islam membawa misi sosial, sebab ia diturunkan memang memperbaiki masyarakat umat manusia. Karena itu sesuai dengan misi islam ialah misi sosial ini, islam banyak mempunyai ajaran dibidang ssoial kemasyarakatan yang membawa kita kaum muslimin menjadi manusia sosial yang baik, yang mampu berhubungan dan bergaul dengan orang lain secara baik
Ajaran-ajaran islam yang demikian ini, kita temukan misalnya pada perintah zakat bagi yang mampu, anjuran berqurban binatang pada setiap ‘idul qurban, anjuran sedekah, anjuran menyebarkan salam islam kepada orang lain baik yang kita kenal maupun tidak, dan kewajiban naik haji bagi yang telah memenuhi syarat-syaratnya.
Selain itu diutamakan oleh Allah dengan memberikan pahala yang lebih besar dari pada amalan-amalan yang kita kerjakan secara individu, maisalnya shalat lima wakttu yang kita kerjakan secara berjemaah.
Dengan ajara-ajaran sosial dalam Islam yang demikian ini, kita di didik oleh agama islam supaya kita dapat menjadi “manusia sosial yang baik” yang pandai membawa diri didalam hidup bermasyarakat
Seluruh manusia itu adalah umat yang satu. Dalam hidup bemasyarakat, kita bergaul dengan banyak pihak. Dan dengan semua pihak ini, tidak peduli suku apa, pangkatnya apa, agamnya apa, dan lain sebagainya.
Kita diminata oleh islam untuk bergaul dengan baik. Terutama terhadap pihak-pihak yang berikut ini, harus kita berikan priorotas untuk kita pergauli dengan baik yaitu:
1. Kedua orang tua, ibu dan bapak kita masing-masing
2. Orang-orang yang menjadi karib kerabat kita
3. Anak-anak yatim
4. Orang-orng miskin
5. Tetangga yang dekat maupun yang jauh dengan kita, baik dilihat dari segi tempat, hubungan keluarga maupun dilihat dari segi muslim dan bukan muslim.
6. Orang-orang yang menjadi teman sejawat kita
7. Ibnu sabil yaitu, para musafir yang kahabisan bekal yang kepergiannya tidak untuk maksiat.
8. Hamba sahaya
semuanya itu difirmankan oleh Allah dalam surat Annisa’ ayat 36 yang artinya:
“sembahlah Allah, jangan kamu sekutukan Dia dengan sesuatu. Berbuat Berbaiklah kepada kedua orang tuamu, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya. Sesungguhnya Allah tidak suka kepada mereka yang sombong dan membagga-banggakan diri.
Bergaul yang baik dengan sesama manusia dapat dibagai menjadi tiga tingkat:
Tingkat pertama:
Ialah tingkat yang paling rendah yaitu kita bergaul dengan orang lain hanya sekedar kita tidak membuta susah kepada orang lain dan tidak mengganggu mereka. Misalnya
Pada waktu siang hari selagi orang lian tengah istirahat tidur siang atau tengah asik belajar, kita tidak membunyikan TV atau Radio keras-keras, contah yang lian adalah tidak membuang sampah sembarang sehingga mengganggu tetangga dan lain sebagainya. Jadi menurut cara bergaul tingkat rendah ini, kita bergaul secara positif sebab kita tidak berbuat ini dan itu yang dapat menyusahkan orang lain. Cara bergaul tingkat rendah inilah yang oleh Rasulullah disabdakan: yang artinya “barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah ia menyakiti tetangganya
Teingkat kedua ialah bergaul yang lebih tinggi dari pada bergaul tingkat pertama. Bergaul yang baik dengan orang lain menurut tingkat kedua ini kita bergaul tidak secara pasif lagi tetapi secara aktif, dengan kita berbuat dan bermanfaat bagi orang lain. Kita tidak sekedar hanya “tidak menggangu orang lain”, tetapi lebih dari itu kita sudah memberikan sesuatu yang bermanfaat kepada orang lain. Cara bergaul begini, terkandung dalam sabda Rasul: “makhluk itu seluruhnya adalah keluarga Allah. Diantara mereka itu yang paling dicintai oleh Allah ialah yang peling bermanfaat kepada keluarga Allah.” Lebih jauh Rasulullah menerangkan: “tahukah kamu, apa yang menjadi hak tetangga? Bila tetangga minta tolong tolonglah ia. Bila ia ingin hutang kepadamu, hutangilah dia. Bila ia memerlukan sesuatu, berikan sesuatu kepadanya. Bila ia jatuh sakit, jenguklah ia. Bila ia meninggal dunia antarkanlah jazahnya. Bila memperolah sesuatu yang menggembirakan, ucapkanlah selamat kepadanya. Bila ia mendapat sesuatu musibah, tunjukkanlah rasa simpati kepadanya. Janganlah kamu mendirikan bangunan yang tinggi yang menutupi udara tetangga itu kecuali kalau sudah mendapat ijin. Bila kamu membeli buah-buahan hadakkan sebagian kepadanya, bila tidak masukkanlah kerumah pelan-pelan dan jangan sampai anak-anakmu membawa keluar buah-buahan itu supaya tidak membikin jengker anak tetanggamu. Janganlah kamu sakiti hati tetangga dengan bau masakan didapur, kecuali kalau kamu berikan sebagian kepadanya. Tahukan kamu, apa yang menjadi hak tetangga? Demi zat yang mengusai jiwaku tidak akan bisa menyadari hak tetangga kecuali orang yang dirahmati oleh Allah”.
Cara bergaul yang baik yang ketiga ini adalah cara bergaul yang terbaik dan tertinggi. Boleh dikatakan cara bergaul yang ketiga inilah yang banyak dikerjakan oleh para Nabi dan orang-orang mukmin yang telah tinggi tingkatan kemukminannya.
Menurut cara bergaul yang ketiga ini, kita tidak hanya sekedar “tidak mengganggu orang lain dan tidak hanya sekedar memberi manfaaat kepada orang lain” seperti pada cara bergaul menurut tingkat pertama dan kedua, melainkan lebih dari itu kita sudah berbuat ketingkat yang lebih sempurna lagi, yaitu kita menahan diri dengan sabar terhadap tindakan orang lain yang menyakitkan kita, bahkan kita balas perbuatan yang tidak baik itu dengan kebaikan. Sabda Rasulullah : “jika kamu ingin melebihi tingkat mereka yang tergolong shiddiqun (orang-orang yang benar) sambunglah hubungan persaudaraan dengan mereka yang memutuskan hubungan persaudaraan itu, berilah mereka yang menahan pemberian dan maafkanlah mereka yang berbuat dzalim kepadamu”.
Memang sebagian orang kurang begitu memperhatikan pergaulannya dengan orang lain dan tidak ambil perduli terhadapt masyarakat sekitarnya. Berdikap masa bodoh dengan tidak senang bergaul dengan orang, bahkan tingkah lakunya menunjukkan sifat-sifat angkuh dan angker, terutama kepada orang-orang yang tingkatnnya yang lebih rendah. Tidak ada keramahan, tidak ada kedermawanan, tidak ada sikap tawadhu.
Semua bentuk-bentuk tingkah laku yang sifatnya asosial, tentu sangat keliru dan sangat tidak bijaksana. Sampaipun andaikata yang bertingkahlaku yang demikian orang islam yang banyak ibadahnya kepada Allah dan mengerjakan amal-amal seperti shalat, puasa, dan lain-lain, juga tidak dapat dibenarkan dan semua amal ibadahnya yang banyak itu mungkin akan menjadi sesuatu yang percuma. Ada seorang laki-laki bertanya kepada Nabi: ya Rasulallah si pulanah (seorang banyak mengerjakan shalat,puasa, sedekah akan tetapi dia selalu menyakiti hati tetangganya dengan mulutnya, bagaimana dengan si pulanah yang demikian ini? Beliau menjawab dia masuk neraka.
Hadist ini menunjukkan kepada kita bahwa tidak dibenarkan orang yang banyak ibadah tetapi sikapnya asosial kepada masyarakat sekitar, sanksi orang yang demikian adalah neraka. Dan tentunya lebih tidak dapat dibenarkan lagi, kalau ibadahpun tidak dikerjakan, ditambah lagi sikap hidupnya juga asosial kepada masyarakat sekitar. Alangkah bijaksana kalau kita semua mampu menjadikan diri kita sebagai hamba Allah yang taat dan banyak beribadah kepadanya, tetapi selain itu sekaligus juga kita mampu menjadikan menjadikan diri kita sebagai makhluk sosial yang baik atau masyarakat yang baik, karena demikianlah ajaran agama kita agama islam.
Jadi kita adalah orang islam yang mempunyai banyak sahabat dan pandai membawakan diri ditengah-tengah masyarakat, sebab Rasulullah bersabda: “siapa yang ingin umur yang panjang dan mendapat riski yang lapang hendaklah ia bertakwa kepada Allah dan hendaklah ia mengadakan silaturrahmi.

About 7assalam9

seorang yang berasal dari madura

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Asmaul Husna

Arsip

free counters

Powered by  MyPagerank.Net

SEO Stats powered by MyPagerank.Net

Komentar Terbaru

Mr WordPress di Hello world!
%d blogger menyukai ini: