//
you're reading...
artikel islam

Aktualisasi Syukur

Aktualisasi Syukur
Oleh: Drh. M.Zainul Fadli, M kes

Istilah syukur ini sudah tidak asing lagi bagi kita dan sangat akrab dalam pemahaman kita. Lisan kita juga cukup sering mengucapkan kalimat tersebut bahkan berbagai sikap dan aktivitas telah kita lakukan untuk mengungkapkan rasa syukur itu. Namun demikian, syukur ini tetap menarik untuk dibahas, karena ternyata masih sangat banyak orang yang belum dapat mensyukuri berbagai nikmat dan anugrah dari Allah secara benar. Allah sendiri meyatakan sangat sedikit diantara hambanya yang pandai mensyukuri nikmat dan karunia yang telah dilimpahkan oleh-Nya seperti yang terdapat dalam Al-Quran, Surat Saba’ayat 13, “… Dan sangat sedikit diantara hamba-hamba-ku yang pandai bersyukur.”
Pernyataan Allah tersebut dikaitkan dengan perintahnya kepada keluarga Nabi Daud a.s. agar giat bekerja sebagai ugkapan rasa syukur atas karunia Allah. Diantara anugrah yang telah diberikan kepada Nabi Daud a.s. adalah kemampuan melunakkan besi untuk dijadikan peralatan perang dan perlengkapan rumah tangga (peguasaan teknologi metalurgi). Demikian pula kepada putranya Nabi Sulaiman a.s. diberikan kemampuan mengendalikan angin (sehingga dapat mengontrol arah dan kecepatannya sesuai dengan keinginan beliau), juga dapat menguasai bangsa jin, sehingga mereka mau bekerja atas perintah Nabi Sulaiman. Bahkan beliau juga diberi kemampuan memahami berbagai bahasa binatang. Semua itu adalah karunia yang luar biasa, dan oleh karenanya Allah Memerintahkan kepada Nabi Daud dan keluarganya agar bekerja mendayagunakan berbagai kemampuan tersebut (untuk hal yang maslahat), sebagai ungkapan rasa syukur.
“… Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah) …” (Q.S. Saba’:13)
Hal yang menarik pada ayat tersebut ialah adanya perintah bekerja sebagai ungkapan rasa syukur, artinya bahwa mensyukuri nikmat itu bukan hanya sekedar pernyataan yang diucapkan dengan lisan atau rasa senang dan kepuasaan dalam hati. Namun yang lebih penting adalah bekerja menggunakan nikmat itu sesuai kehendak dan perintah Allah. Berdasarkan ayat ini, maka para ulama mendefinisikan syukur dengan istilah “Mempergunakan segala nikmat dari Allah untuk mentaati ajaran-Nya dan menghindari penggunaan nikmat itu untuk bermaksiat kepada-Nya.”
Dengan demikian hakikat syukur adalah mengelola dan mendayagunakan berbagai nikmat dan karunia dari Allah sesuai dengan petunjuk/kehendak-Nya. Apabila seseorang atau suatu kaum tidak mendayagunakan nikmat itu, untuk hal-hal yang maslahat atau malah menggunakannya untuk hal-hal yang dimurkai atau dilarang oleh Allah, maka berarti mereka ingkar (kufur) atas nikmat tersebut. Hal ini pernah dinyatakan oleh Imam Ghozali: “Pengertian syukur adalah menggunakan nikamt Allah untuk hal-hal yang disukai oleh-Nya, sedangkan makna kufur (nikmat) adalah sebaliknya, adakalaya dengan tidak mendayagunakan nikmat itu atau malah menggunakan nikmat itu untuk hal-hal yang dimurkai oleh Allah.”
Kalau kita konfirmasikan definisi tersebut dengan realitas sikap kita sebagai individu maupun sebagai bangsa saat ini, tampaknya kita masih tergolong hamba atau bangsa yang belum mensyukuri karunia Allah itu dengan baik. Mari kita cermati satu persatu.
Sebagai hamba kita telah diberi sangat banyak kenikmatan oleh Allah berupa organ-organ tubuh dan pancaindera yang berfungsi normal, sementara banyak orang lain yang tidak dapat merasakan nikmatnya memiliki organ tubuh atau pancaindera yang normal tersebut.
Ada orang yang matanya mengalami gangguan, sehingga tidak berfungsi secara normal (tuna netra), ada pula yang pendengaranya mengalami gangguan (tuna rungu) atau lisannya tidak dapat berbicara (tuna wicara), ada yang ginjalnya mengalami kegagalan fungsi atau livernya mengalami gangguan atau paru-paru yang mengalami kerusakan dan sebagainya. Semua kondisi tersebut memberikan penyadaran bahwa berfungsinya organ-organ tubuh kita secara normal ini, benar-benar merupakan anugerah besar yang harus disyukuri dan ungkapan rasa syukur yang paling tepat adalah dengan menggunakan organ-organ tubuh itu untuk aktifitas yang diridloi Allah. Penggunaan organ tubuh untuk bermaksiat atau hal-hal yang dilarang Allah, berarti merupakan pengingkaran (kekufuran) atas nikmat-Nya.
Demikian pula sebagai bangsa kita telah dianugrahi tanah air yang sangat kaya dengan berbagai potensi alam, mulai dari yang bertebaran di daratan, berupa kesuburan lahan pertanian serta hutan tropis terluas di dunia, kekayaan biota laut yang luar biasa, berbagai macam tambang yang tersimpan di perut bumi, baik di daratan maupun di dasar lautnya. Seluruh kekayaan alam yang merupakan anugrah itu semestinya dikelola dan dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kemaslahatan dan kemakmuran seluruh rakyatnya.
Akan tetapi kekayaan alam yang demikian melimpah di tanah air kita, ini ternyata sebagian besar tidak dikelola dengan baik, namun hanya dieksplorasi dan dieksploitasi untuk diambil keuntungannya sesaat saja. Misalnya pembalakan liar (illegal logging) di hutan yang mestinya menjadi daerah penyangga atau resapan air, eksplorasi berbagai jenis tambang yang mengabaikan implikasi dan dampak lingkungannya, eksploitasi biota laut dan sebagainya. Eksploitasi yang tanpa disertai pengelolaan inilah yang kemudian menimbulkan kerusakan dan ketidakseimbangan lingkungan. Dan akibatnya adalah terjadinya berbagai bencana, seperti tanah longsor, banjir bandang, pencemaran yang cukup sering memakan banyak korban.
Hal yang cukup memprihatinkan adalah bahwa eksploitasi kekayaan alam itu ternyata manfaatnya haya dirasakan oleh sebagian kecil warga bangsa ini, sementara sebagian besar warga masyarakat yang lain sama sekali tidak memiliki akses untuk ikut merasakan manfaatnya. Sebaliknya, mereka justru hanya sering merasakan akibat buruknya berupa bencana demi bencana yang menimpa pemukiman dan lahan mereka. sungguh
Oleh karenanya, sudah saatnya kita melakukan reaktualisasi rasa syukur sebagai bangsa, dengan sungguh-sungguh mengelola sebaik-baiknya berbagai potensi kekayaan alam ini. Dan untuk melakukan hal itu, mutlak diperlukan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang memadai. Kenyataan yang terjadi di negeri kita saat ini, bahwa pengelola kekayaan alam itu, baik yang berupa ladang-ladang minyak atau gas bumi, pertambangan batu bara, emas, tembaga dan lain-lain, temasuk potensi hasil laut yang sangat berlimpah, sebagian besar ternyata adalah perusahaan-perusahaan asing dan tenaga-tenaga ahli dari luar negeri. Sementara bangsa kita, sebagai pemilik negeri ini, hanya menjadi penonton atau pekerja saja. Maka tak dapat ditunda lagi, kita harus memacu peningkatan kualitas manusia Indonesia sekuat kemampuan, agar secepatnya menguasai berbagai bidang teknologi serta memiliki profesionalisme yang tinggi. Hanya dengan profsionalisme dan penguasaan teknologi itulah kita dapat melakukan pengelolaan kekayaan alam yang merupakan anugerah Allah ini secara benar.
Kalau kita mencermati berbagai faktor yang menyebabkan manusia tidak bisa mensyukuri anugerah dari Allah, ternyata tidak lepas dari rekayasa dan tipu daya Iblis beserta keturunanya. Hal ini dapat kita buktikan dengan adanya pernyataan iblis di hadapan Allah, setelah dia diusir dari surga, dan dikutuk seumur hidupnya (karena menolak perintah bersujud kepada Nabi Adam a.s.). Pada surat al-A’raaf ayat 17, Iblis menyatakan: “Kemudian sungguh aku akan mendatangi mereka (manusia) dari arah depan dan belakang juga dari sisi kanan dan sisi kiri mereka, dan Engkau (Allah) tidak akan mendapati sebagian besar mereka mampu bersyukur.”
Iblis dan keturunannya terus menerus mempengaruhi manusia agar tidak dapat mensyukuri nikmat Allah, antara lain dengan menanamkan sifat sombong, serakah, hasad, dan sebagainya. Manusia sering kali tidak menyadari bahwa mereka tekah terperangkap dalam tipu daya Iblis itu, sehingga muncullah kesombongan dan keserakahannya. Hal ini telah diingatkan oleh Allah SWT pada surat az-Zumar ayat 49: “Maka apabila manusia itu ditimpa bahaya (kesulitan) dia berdoa (memohon) kepada kami, kemudian ketika kami berikan nikmat kepadaya dari Kami, maka dia mengatakan ‘sesungguhnya aku mendapatkan (ni’mat) hanyalah karena ilmu (kepintaran)ku’”.
Kesombongan semacam inilah yang pernah diperagakan oleh Qarun dihadapan kaumnya, sehingga mendatangkan murka Allah. Akhirnya Allah pun membinasakan Qarun dengan cara mengkuburnya hidup-hidup ke dalam tanah dan musnah beserta seluruh harta kekayaannya. Demikianlah cara Allah mengingatkan kepada umat manusia agar jangan sekali-kali mengingkari ni’mat-Nya, apalagi dengan menyombongkan diri merasa pintar, kuat, sok kuasa dan sebagainya. Sebaliknya, hendaknya setiap manusia selalu mensyukuri berbagai ni’mat dan anugerah dari Allah serta selalu mentaati ajaran-Nya.
Untuk melengkapi uraian ringkas tentang aktualisasi syukur ini marilah kita perhatikan peringatan penting dari baginda Rasulullah SAW melalui hadits riwayat Imam Bukhari, Tirmidzi, dan Ibnu Majah, dari sahabat Abdullah bin ‘Abbas: “Ada dua nikmat yang kebanyakan manusia terpedaya (sehingga tidak dapat mensyukuri dan mensia-siakan nikmat tersebut) yaitu nikmat kesehatan dan waktu luang (kesempatan).”
Oleh karenanya, nikmat beupa kesehatan dan kesempatan yang telah dianugerahkan oleh Allah kepada kita, harus benar-benar kita dayagunakan sebaik-baiknya untuk melaksanakan ketaatan kepada-Nya. Kita tidak pernah dapat memprediksi sampai kapan kedua nikmat ini masih dianugerahkan kepada kita. Jangan sampai kita menyesali diri setelah kita tidak sehat atau sudah tidak memiliki kesempatan lagi. Mudah-mudaan kita semua dijadikan sebagai hamba yang selalu mampu mengaktualisasikan rasa syukur kepada Allah secara benar, Amiin. Wallahu A’lam

* Penulis adalah dosen Fak. Peterbakan Universitas Islam Malang

About 7assalam9

seorang yang berasal dari madura

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Asmaul Husna

Arsip

free counters

Powered by  MyPagerank.Net

SEO Stats powered by MyPagerank.Net

Komentar Terbaru

Mr WordPress di Hello world!
%d blogger menyukai ini: