//
KETEPATAN PILIHAN KATA

KETEPATAN PILIHAN KATA
2.1 Makna Denotatif dan Konotatif
Makna denotatif (makan konseptual) adalah makna dalam alam wajar secara eksplisit.
Makna konotatif (makna asosiatif) adalah makna yang timbul sebagai akibat dari sikap sosial, sikap pribadi, dan kriteria tambahan yang dikenakan pada sebuah makna konseptual.
Makna-makna konotatif sifatnya lebih profesional dan operasional daripada makna denotatif. Makna denotatif adalah makna yang umum. Dengan kata lain, makna konotatif adalah makna yang dikaitkan dengan suatu kondisi dan situasi tertentu.
Makna denotatif ialah arti harfiah suatu kata tanpa ada satu makna yang menyertainya, sedangkan makna konotatif adalah makna kata yang mempunyai tautan pikiran, peranan, dan lain-lain yang menimbulkan nilai rasa tertentu. Dengan kata lain makna denotatif adalah makna yang bersifat umum, sedangkan makna konotatif lebih bersifat pribadi dan khusus.
Perhatikan kalimat dibawah ini
Sejak dua tahun yang lalu ia membanting tulang untuk memperoleh kepercayaan masyarakat.
Kata membanting tulang (yang mengambil suatu denotatif kata perkerjaan membanting sebuah tulang) mengandung makna “bekerja keras” yang merupakan sebuah kata kiasan. Kata membanting tulang dapat kita masukkan ke dalam golongan kata yang bermakna konotatif
2.2.2 Makna Kata Bersinonim
Sinonim adalah dua kata atau lebih yang pada asasnya mempunyai makna yang sama, tetapi bentuknya berlainan. Kesinoniman kata tidaklah mutlak, hanya ada kesamaan atau kemiripan.
Sinonim ini dipergunakan untuk mengalih-alihkan pemakaian kata pada empat tertentu sehingga kalimat itu tidak membosankan. Dalam pemakaiannya bentuk-bentuk kata yang bersinonim akan menghidupkan Bahasa seseorang dan mengonkretkan bahasa seseorang segingga kejelasan komunikasi (lewat bahasa itu) akan terwujud. Dalam hal ini pemakai bahasa dapat memilih bentuk kata mana yang paling tepat untuk dipergunakan sesuai dengan kebutuhan dan situai yang dihadapinya.
Kita ambil contoh kata cerdas dan kata cerdik. Kedua kata itu bersinonim, tetapi kedua kata tersebut tidak persis sama benar. Kesinoniman kata masih berhubungan dengan masalah makna denotatif dan makna konotatif suatu kata.
2.2.3 Makna Kata-Kata yang Mirip Dalam Ejaannya
Bila penulis sendiri tidak mampu membedakan kata-kata yang mirip ejaannya itu, makna akan membawa akibat yang tidak diinginkan, yaitu salah paham. Kata-kata yang mirip dalam tulisannya itu misalnya: bahwa-bawah-bawa, interferensi-inferensi, karton-kartun, preposisi-proposisi, korporasi-koperasi, dan lain sebagainya.
2.2.4 Hindari Kata-Kata Ciptaan Sendiri
Bahasa selalu tumbuh dan berkembang sesuai dengan perkembangan dalam masyarakat. Perkembangan bahasa pertama-tama tampak dari pertambahan jumlah kata baru. Namun hal itu tidak berarti bahwa setiap orang boleh menciptakan kata baru seenaknya. Kata baru biasanya muncul untuk pertama kali karena dipakai oleh orang-orang terkenal atau pengarang terkenal. Bila anggota masyarakat lainnya menerima kata itu, maka kata itu lama-kelamaan akan menjadi milik masyarakat. Neologisme atau kata baru atau penggunaan sebuah kata lama dengan makna dan fungsi yang baru termasuk dalam kelompok ini.
2.2.5 Penggunaan Istilah Asing dan Akhirannya
Waspadalah terhadap penggunaan akhiran asing, terutama kata-kata asing yang mengandung akhiran asing tersebut. Perhatikan penggunaan: favorable-favorit, idiom-idiomatik, progress-progresif, kultur-kultural, dan sebagainya.
Kata-kata atau istilah-istilah asing boleh dipakai (mungkin kita pilih) dengan pertimbangan sebagai berikut:
a. Lebih cocok karena notasinya, misalnya:
kritik -kecaman
profesional -bayaran
asimilasi -persenyawaan
aposisi -gelaran
dianalisis -diolah
b. Lebih singkat jika dibandingkan dengan terjemahannya, misalnya:
eksekusi -pelaksanaan hukuman mati
imunisasi -pengebalan terhadap penyakit
inovasi -perubahan secara baru
kontrasepsi -alat pencegah kehamilan
mutasi -perpindahan tugas kepagawaian
c. Bersifat internasional, misalnya:
matematika -ilmu pasti
oksigen -zat asam
hidrogen -zat air
valensi -martabat
fisiologi -ilmu faal
predikat -sebutan
2.2.6 Pemakaian Kata Idiom
Karangan yang cermat dalam diksinya sebaiknya bersifat idiomatik.
Perhatikan bentuk-bentuk contoh dibawah ini!
Betul Salah
Bergantung kepada atau pada tergantung dari
Tergantung dari pada
Bergantung dari
Berbeda dengan berbeda dari/dari pada
Disebabkan oleh disebabkan karena
Hormat akan/kepada/terhadap hormat atas /sama
Terdiri atas terdiri/terdiri dari
Sesuai dengan sesuai
Bertemu dengan bertemu/bertemu sama
2.2.7 Makna Umum dan Khusus
Kata-kata umum (Generik) ialah kata-kata yang luas ruang lingkupnya, sedangkan kata-kata khusus ialah kata-kata yang sempit ruang lingkupnya. Makin umum, makin kabur gambarannya dalam angan-angan. Sebaliknya, makin khusus, mikin jelas dan tepat. Karena itu, untuk mengefektifkan penuturan lebih tepat dipakai kata-kata khusus dari pada kat-kata umum.

Umum khusus
Melihat memandang (gunung sawah, laut)
Menonton (wayang)
Menengok (orang sakit)
Menatap (gambar)
Menoleh (kiri-kanan)
Meninjau (daerah)
Menyaksikan (pertandingan sepak bola)
2.2.8 Kata Konkret dan Abstrak
Kata-kata konkret adalah kata-kata yang menunjuk kepada objek yang dilihat, didengar, disarakan, diraba, atau dibau; sedangkan kata-kata abstrak ialah kata-kata yang menunjuk kepada sifat, konsep, atau gagasan. Kata-kata konkret lebih mudah dipahami dari pada kata-kata abstrak. Karena itu, dalam karangan sebaiknya dipakai kata konkret sebanyak-banyaknya agar isi karangan itu menjadi labih jelas.
Kata yang acuannya semakin mudah diserap panca indra disebut kata konkret, seperti meja, rumah, mobil, air, cantik, hangat, wangi, suara. Jika acuan sebuah kata tidak mudah diserap panca indra, kata itu disebut kata abstrak, seperti gagasan dan perdamaian. Kata abstrak digunakan untuk mengungkapkan gagasan rumit. Kata abstrak mampu membedakan secara halus gagasan yang bersifat teknis dan khusus. Akan tetapi, jika kata abstrak terlalu diobral atau dihambur-hamburkan dalam suatu karangan, karangan itu dapat menjadi samara dan tidak cermat.
Kata-kata konkrit dapat lebih efektif jika dipakai dalam karangan narasi atau deskripsi sebab, dalam merangsang panca indra. Kata-kata abstrak sering dipakai untuk mengungkapkan gagasan atau ide-ide yang rumit.
2.2.9 Pemakaian Kata Indria
Suatu jenis pengkhususan dalam memilih kata-kata yang tepat adalah penggunaan istilah-istilah yang menyatakan pegalaman-pengalaman yang diserap oleh panca indra, yaitu serapan indria penglihatan, pendengaran, peraba, perasa, dan penciuman.
Tetapi sering kali terjadi hubungan antara indria dengan indria yang lain dirasakan begitu rapatnya, sehingga kata yang sebenarnya dikenakan kepada suatu indria dikenakan pula pada indria lainnya. Gejala semacam ini disebut sinestesia.
Contoh : wajahnya manis sekali.
Suaranya manis kedengarannya
Kata-kata yang lazim dipakai untuk menyatakan penserapan itu adalah
Peraba : dingin, panas, lembab, basah, kering, dan kasar
Perasa : pedas, pahit, asam, dan manis
Pencium : basi, busuk, anyer dan tenggek
Pendengaran : dengung, derung, ringkik, lengking, dan kicau
Penglihatan : kabur, mengkilat, kemerah-merahan, dan seri
Karena kata-kata indria melukiskan suatu sifat yang khas dari penserapan panca indria, maka pemakaiannya harus tepat.
2.2.10 Perubahan Makna
Perubahan-perubahan yang penting adalah

1.Perluasan Arti
Kata yang dimaksud dengan perluasan arti adalah suatu proses perubahan makna yang dialami sebuah kata yang tadinya mengandung suatau makna yang khusus, tetapi kemudia meluas sehingga meliputi sebuah kelas makna yang lebih umum.
Contoh : kata berlayar dipakai dengan pengertian bergerak dilaut dengan menggunakan layar. Sekarang setindakan yang mengarungi lautan atau perairan dengan menggunakan alat apa saja.
2.Penyempitan Arti
Penyempitan arti sebuah kata adalah sebuah proses yang dialami sebuah kata dimana makna yang lama lebih luas cakupannya dari makna yang baru
contoh: kata sarjana dulu dipakai untuk menyebut sebuah cendekiawan. Sekarang dipakai untuk gelar universiter.
3.Ameliorasi
Amilorasi adalah suatu proses perubahan makna, dimana arti yang baru dirasakan lebih tinggi atau lebih baik nilainya dari arti yang lama.
Contoh : kata wanita dirasakan nilainya lebih tinggi dari kata perempuan, istri dan bini, pria dan laki-laki.
4.Peyorasi
peyorasi adalah suatu proses perubahan makna bebagai kebalikan dari amiliorasi
5.Metafora
Metafora adalah perubahan makna karena perbedaan sifat dua objek
contoh: matahari (sang surya), putri malam (untuk bulan), pulau (empu laut), semuanya dibentuk berdasarkan metafora. Salah satu sub tipe dari metafora adalah sinestesia yaitu perubahan makna berdasarkan pergeseran istilah antara dua indria misalnya, dari peraba ke penciuman.
6.Metonimi
Metonimi sebagai suatu proses perubahan makna terjadi karena hubungan yang erat antara kata-kata yang terlibat dalam suatu lingkungan makna yang sama, dan dapat diklasifikasi menurut tempat atau waktu, hubungan isi dan kulit, dan antara sebab dan akibat.
Contoh :kata kota tadinya berati susunan batu yang dibuat mengelilingi sebuah tempat pemukiman sebagai pertahanan dari luar. Sekarang tempat pemukiman itu disebut kota, walaupun sudah tidak ada susunan batunya lagi.
2.2.11 Kelangsungan Pilihan Kata
Suatu cara lain untuk menjaga ketepatat pilihan kata adalah kelangsungan. Yang dimaksud dengan kelangsungan pilihan kata adalah tehnik memilih kata yang sedemikian rupa sehingga maksud dan pikiran seseorang dapat disampaikan secara tepat dan efektif.
2.2.12 Pemakaian Kata Yang Lugas
Dalam karangan sebaiknya dipaki kata-kata yang lugas, yaitu kata-kata yang bersahaja, apa adanya, tidak berupa frase yang panjang. Perhatikanlah contoh berikut dan bandingkan!
> sepanjang pengetahuan saya Struktur Bahasa Tengger belum pernah diadakan penelitian.
> setahu saya Struktur Bahasa Tengger belum pernah diteliti.
Jadi dalam karangan sedapat-dapatnya dipakai kalimat lugas dan ringkas namun tetap tidak mengubah maknanya.

Diskusi

Belum ada komentar.

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Asmaul Husna

Arsip

free counters

Powered by  MyPagerank.Net

SEO Stats powered by MyPagerank.Net

Klik tertinggi

  • Tidak ada

Komentar Terakhir

Mr WordPress on Hello world!
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: