//
you're reading...
artikel islam

Tadabbur Al-Quran

Tadabbur Al-Quran Oleh: Siti Farohah* Beberapa abad yang lalu, Allah melengkapi pengutusan-Nya pada Rasulullah SAW dengan menyertakan sebuah user manual, yang merupakan sebuah panduan manusia untuk bisa hidup di dunia dengan tetap pada jalur rel yang benar sesuai dengan yang Allah Perintahkan. Dan “buku panduan” ini walaupun sudah berabad lalu diturunkannya, keaslian produk beserta isinya tetap terpelihara sampai saat ini karena ada jaminan langsung dari Pencipta yang Memfirmankannya, Allah SWT (baca al-Hijr ayat 9). Dan kita sebagai pengikut Rasul utusan-Nya yang terakhir ini, wajib mengimani, mengimami “buku panduan” ini yang bernama al-Qur’an. Jadi cukup aneh jika kita mempunyai sebuah buku pedoman pengoperasian diri kita namun mengacuhkannya, tidak mentadabburinya. Namun, seiring perjalanan roda kehidupan peradaban manusia, yang menyebabkan manusia semakin “sibuk” dengan kehidupan di dunianya, fokus perhatian, pemikiran kurang terfokuskan pada pemeliharaan iman di hati, manusia sudah mulai sedikit demi sedikit melupakan al-Qur’annya, Kitab Sucinya. Godaan gemerlapnya perhiasan dunia begitu melenakan mata yang memandang, menggoyahkan hati sehingga banyak membuat manusia tanpa sadar mengesampingkan al-Qur’an. Jangankan metadabburi al-Qur’an, membacanyapun kurang begitu rutin. Tadabbur Al-Quran adalah perenungan dan pencermatan ayat-ayat untuk tujuan difahami, diketahui makna-maknanya, diselami hikmah-hikmahnya serta maksudnya untuk kemudian diamalkan atau dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang yang mempersulit diri sendiri dari mentadabburi Al-Quran dengan beranggapan bahwa Al-Quran hanya dapat difahami oleh kalangan para Ulama’ saja!. Padahal tidak demikian, Al-Quran dapat difahami oleh siapapun yang mau dan berusaha memahaminya. Allah SWT berfirman “dan sesungguhnya telah kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang-orang yang mengambil pelajaran?” (Al-Qomar:17) Tadabbur Al-Quran bukanlah hal baru, tapi merupakan bentuk kewajiban seorang hamba terhadap Rabbnya yang telah menurunkan kitab yang mulia ini. Al-Quran diturunkan kepada manusia agar dijadikan petunjuk jalan hidupnya berdasarkan firman Allah SWT. Pada hakekatnya mentadabburi Al-Quran merupakan kewajiban bagi kita Umat Islam dan merupakan hak-hak Al-Quran yang harus kita penuhi. Firman Allah: “Ini adalah sebuah kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah, supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai fikiran.” (As-Shad : 29). Dalam firman Allah yang lain, ”maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran? Kalau kiranya Al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya” (An-Nisa’: 82) Dari kedua ayat di atas terdapat perintah bahwa kita harus mentadabburi Al-Quran. Tadabbur Al-Quran dapat menjadikan hati menjadi lunak, mengobati hati dari berbagai penyakit hati (ragu-ragu, hasad, iri, dengki, ria’, munafik, dll.), menambah kekuatan iman, menjadikan hati takut kepada Allah, dan masih banyak hikmah lain yang dapat diambil dari mentadabburi Al-Quran yang pada intinya akan menciptakan generasi Qur’ani, muslim yang mukmim. Di dalam Al Qur’an disebutkan, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang apabila disebutkan nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatnya bertambah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (al-Anfal: 2). Allah SWT juga berfirman dalam surat Maryam, ayat 58, “Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis”. Berdasarkan firman Allah tersebut secara fisikologis, Al-Quran memang harus didekati secara emosional, melibatkan ”perasaan” dalam upaya menyelami makna terdalam dan hikmah tertinggi yang dimiliki. Salah satu tujuan mentadabburi Al-Quran adalah menghidupkan hati. Hati yang hidup menggerakkan potensi yang ada pada diri seseorang. Sebaiknya hati yang mati dapat membunuh segala bakat dan potensi diri. Hati yang hidup adalah hati yang subur dan bersedia untuk mendengar, melihat dan menerima kebenaran. Hati yang hidup mempunyai nur, tenaga dan kekuatan, ia senantiasa tunduk dan patut kepada Allah dengan penuh husyu’, taqwa serta bersih dan simpatik kepada sesama makhluk. Bukankah suatu peradaban dapat dibangun dengan menggerakkan potensi diri serta mengarahkan kepada pembangunan? Dengan pengutusan Rosulullah SAW, segala bakat dan potensi para sahabat yang terpendam digerakkan dengan penghayatan Al-Quran. Masih terasa segar ingatan kita tentang satu generasi terbaik pada zaman Rosulullah SAW dimana mereka telah membuktikan dengan berbekal Al-Quran, seluruh pencapaian peradaban bisa diwujudkan. Prestasi itu tidak hanya secara individual tercipta manusia-manusia sholeh kelas dunia tetapi juga secara kolektif terbentuklah generasi baru yang berkiblat dengan pengabdian semata-mata kepada Allah. Sejarah generasi umat Islam pertama yang tidak diperhatikan dunia telah melahirkan peradaban selama tujuh abad dan dibanggakan sampai sekarang. Begitulah al-Quran dalam kehidupan ini dalam membentuk peradaban baru melalui al-Quran yang mulia. Hati yang dihidupkan dengan al-Quran bersedia mematuhi segala perintah syara’. Dengan mematuhi segala perintah syara’, barulah kehidupan manusia akan sempurna. Bukanlah Allah berfirman yang, ”Sesungguhnya al-Quran ini membimbing ke jalan yang lurus (benar).” (Al-Isra’: 9). Maka untuk menghidupkan hati dengan Al-Qur’an ada beberapa syarat, antara lain 1) Al-Qu’an hendaklah dibaca dengan tenang dan khusuk, dalam keadaan sembunyi, terutama pada waktu sepertiga malam atau fajar (subuh). Firman Allah, ”Sesungguhnya membaca al-Quran pada waktu fajar (subuh) itu disaksikan para malaikat.” (al-Isro’: 78) 2) membaca Al-Quran dengan memahami maknanya. Seperti yang dijelaskan dalam firman Allah, ”Tidaklah mereka merenungi (tadabur) Al-Quran itu?” (Muhammad: 24) Pembacaan al-Quran yang disertai dengan renungan dan pengamatan akan membuka pintu hati seseorang untuk menerima kebenaran yang terkandung dalam Al-Quran. Dengan demikian hati dapat mengenal kebenaran dengan mudah. Nilai kebenaran dan kebaikan akan tumbuh subur dalam jiwanya. Lantas ia menyukai kedua-duanya, serta membenci dan menentang kebatilan dan kejahatan. 3) Senantiasa bersikap bersedia menerima kebenaran Al-Quran dan mengimaninya baik perintah atau larangan yang datangnya dari Allah SWT. Manusia sering dikuasai oleh hawa nafsunya. Nafsu identik dengan kesenanagan yang bersifat duniawi sementara segala keinginan dunia adalah dinding (hijab) tebal yang menutup hati seseorang sehingga menyebabkan enggan menerima hidayah Allah melalui al-Quran. Disinilah kita diperintah untuk meyakini sedalam-dalamnya bahwa sistem kehidupan yang dibawa al-Quran merupakan sesuatu yang haq dan menyelamatkan umat manusia. Seluruh petunjuk Al-Quran merupakan kerangka kesuksesan kehidupan di dunia dan akhirat. Karena adanya keyakinan itulah Al-Quran dijadikan sebagai akhlaq dalam kehidupan. 4) Merealisasaikan kehambaan diri sewaktu membaca Al-Quran. Perasaan ini akan menimbulkan keinginan untuk merealisasikan segala ajaran al-Quran yang dibaca itu dalam kehidupan dan ini semata-mata untuk mengharap keridhoan Allah. Untuk memastikan ia terus hidup dan segar, maka hati perlu senantiasa menjalani proses mujahadah (melawan segala kemauan diri yang bertentangan dengan ajaran islam). 5) Berdoa. Doa adalah senjata bagi orang muslim, oleh karena itu mintalah kepada Allah supaya Allah membukakan dan menghidupkan hati untuk memberi pemahaman Al-Quran kepada kita karena tadabbur sendiri sesungguhnya hanya pemberian dari Allah semata yang diberikan kepada siapapun yang dikehendaki-Nya. Kita hanya bisa berusaha, mudah-mudahan Allah membukakan bagi kita kandungan kitab-Nya yang mulia ini. Amin Akhirnya, mudah-mudahan tulisan ini ada manfaatnya. Amin. Wallahu A’lam bish-showaab. Barang siapa yang diberi hidayah oleh Allah maka tidak ada seorangpun yang dapat menyesatkannya, dan barang siapa yang disesatkan-Nya maka tidak ada seorangpun yang dapat mermberi hidayah kepadanya”. (al-Hadist) * Penulis adalah Sekretaris Panti Asuhan Nurul Abyadh, serta pegawai Tata Usaha SMP Sriwedari, Malang.

About these ads

About 7assalam9

seorang yang berasal dari madura

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Asmaul Husna

Arsip

free counters

Powered by  MyPagerank.Net

SEO Stats powered by MyPagerank.Net

Komentar Terakhir

Mr WordPress on Hello world!
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: